Recent Posts

Showing posts with label SAINS DASAR. Show all posts
Showing posts with label SAINS DASAR. Show all posts



Dinding GATUTKACA (Dinding yang GAgah, berkualiTas, kUaT, Kedap Air karena siliCA pada abu vulkanik Gunung Merapi)
Gunung Merapi merupakan gunung api teraktif di dunia. Erupsi Gunung Merapi menyebabkan sumber mata air di sekitar lokasi bencana tertutup. Selain itu, Gunung Merapi juga menghasilkann abu vulkanik yang jarang dimanfaatkan oleh masyarakat. Abu vulkanik cukup berbahaya bagi saluran pernapasan dan kendaraan bermotor, bahkan mesin pesawat. Namun, abu vulkanik ini juga dapat bermanfaat bagi masyarakat. Kandungan silika pada abu vulkanik bersifat andesitik (57% – 58%) dan berukuran butir lempung (< 2mm). Dugaan peneliti, abu vulkanik ini dapat dimanfaatkan sebagai campuran untuk pembuatan dinding yang kokoh dan kedap air. Hal ini dikarenakan, senyawa yang terdapat pada semen dan pasir adalah SiO2, sehingga molekul semen, pasir dan abu vulkanik dapat berikatan dengan kuat dan rapat. Oleh karena itu, peneliti membuat bak penampungan air yang kokoh dan kedap air dengan menggunakan campuran abu vulkanik.
Kegiatan penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah: pertama, abu vulkanik di-treatmen dalam bentuk cairan, lalu dianalisis menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry). Kedua, semen dimasukkan ke dalam ember kemudian ditambahkan pasir, abu vulkanik dan air lalu diaduk sampai rata. Bahan-bahan tersebut dicampur dengan perbandingan tertentu, semen : abu vulkanik : pasir adalah 1:0:4, 1:1:3, 1:2:2, 1:3:1, dan 1:4:0, sedangkan airnya ditambahkan setengah dari perbandingan. Dari percobaan tersebut, kami mendapatkan hasil bahwa campuran abu vulkanik dapat memperkokoh dinding dan meningkatkan daya kedap dinding dengan perbandingan 1:2:2 (semen : abu vulkanik : pasir). Ketiga, kami mennganalisis kuat tekan beton dan kekedapan beton dengan menggunakan hukum Archimedes dalam rumus tekanan, dan debit air.
Febrianti Silviana Dewi dan Muhammad Hasan Habib (SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta) – Gold Medal OPSI 2011
Source :http://sagasitas.org

Dinding Gatutkaca (Analisis Kekokohan dan Kekedapan Air Berdasarkan Hukum Archimedes dan Teori Kontinuitas)





Pepaya merupakan buah tropis yang sangat mudah dijumpai di Indonesia. Di balik tampilan warna buahnya yang menarik ternyata terdapat manfaat yang besar. Salah satu pemanfaatan getah buah pepaya dalam pengobatan ataupun pencegahan penyakit yang disebabkan oleh bakteri misalnya diare.
Antibakteri adalah suatu bahan yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri. Di Indonesia, masyarakat cenderung menggunakan antibiotik sintetis untuk menanggulangi penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan mikroorganisme lainnya. Sebenarnya antibiotik sintetis memiliki dampak buruk pada tubuh manusia, karena antibiotik membunuh semua mikroorganisme yang ada dalam tubuh kita. Padahal tidak semua mikroorganisme dalam tubuh kita merugikan. Oleh karena itu, lebih baik kita menggunakan antibakteri alami sebagai pengganti antibiotik sintetis.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui potensi getah buah pepaya sebagai agen antibakteri dan untuk mengetahui zat-zat yang terkandung dalam getah buah pepaya. Metode yang dilakukan adalah metode difusi agar dan uji fitokimia. Melalui metode difusi agar dapat diketahui aktivitas getah buah pepaya dalam menghambat pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Sedangkan dalam uji fitokimia dapat diketahui zat apa saja yang terkandung dalam getah buah pepaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa getah buah pepaya terbukti dapat menghambat pertumbuhan bakteri, dan dalam getah buah pepaya terkandung beberapa senyawa metabolit sekunder, yaitu alkaloid, minyak atsiri, sterol dan triterpena, serta tanin.


Peneliti             :   Dwi Suci Candraningsih, dan Aynul Irsyad   
Sekolah            : SMAN 1 SALATIGA, JAWA TENGAH
Prestasi            : Juara 1 Penelitian 2011 se-Jawa Tengah


Ucik


POTENSI GETAH BUAH PEPAYA (Carica papaya) SEBAGAI AGEN ANTIBAKTERI




Hal sepele seperti luka terbuka dapat menjadi masalah besar jika sudah mengalami infeksi. Di lingkungan masyarakat, ada sebuah isu yang mengatakan bahwa luka terbuka dapat disembuhkan dengan menggunakan getah jarak cina (Jatropha multifida). Oleh karena itu, peneliti ingin membuktikan adanya pengaruh penggunaan getah tangkai daun jarak cina sebagai obat luka terbuka.
Penelitian ini dilakukan terhadap bahan alami yang dapat digunakan sebagai obat untuk mempercepat penyembuhan luka terbuka. Objek yang peneliti gunakan adalah marmut yang berkerabat cukup dekat dengan manusia dan mudah diamati. Jumlah marmut yang digunakan sebanyak 20 ekor. Sebanyak 20 ekor marmut dikelompokkan menjadi 5 kelompok. Peneliti mengekstrak potongan-potongan kecil tangkai daun jarak cina sebanyak 1 kg yang telah direndam selama 24 jam menggunakan dua liter etanol 70%. Setelah didapat ekstrak, peneliti meneteskannya ke punggung marmut yang terlebih dahulu telah dilukai. Dari data penelitian diperoleh hasil pengamatan bahwa marmut yang ditetesi dengan ekstrak getah jarak cina 100% menunjukkan penyembuhan luka terbuka yang lebih cepat.
Berdasarkan penelitian tersebut, maka diketahui bahwa ekstrak getah jarak cina dapat digunakan sebagai obat tetes untuk mempercepat penyembuhan luka terbuka

Peneliti       :      Bagus Satriyo Wibowo, Maria Novena Sukma Agastya, dan Ruth Hanani
Sekolah     :       SMAN 1 SALATIGA, JAWA TENGAH

Noven, Ruth, Bowo




PEMANFAATAN EKSTRAK GETAH TANGKAI DAUN JARAK CINA SEBAGAI AGEN PEMERCEPAT PENYEMBUHAN LUKA TERBUKA

Ingin berpartisipasi ?

Nama Peneliti *
ex:
Individu : Brian
Kelompok: Eko Budi,Fa Brian,Gio Ovan
Email *
URL foto penelitian
URL bisa dari foto facebook atau melalui Photobucket.com
URL foto peneliti
URL bisa dari foto facebook atau melalui photobucket.com
ex:https://www.facebook.com/fabriangandapratama/photos
Judul Penelitian
Abstrak Penelitian dan Nama Sekolah *
Peneliti Indonesia "Turn On Indonesia Research". Powered by Blogger.