Nurul Inayah dan Nando Novia, siswa kelas XI Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 10, Kota Malang, Jawa Timur, mengikuti International Young Inventors Project Olympiad 2012 bidang Photo Electro System, mengubah urine menjadi energi listrik dan berhasil menyabet medali emas pada lomba teknologi internasional tersebut di Georgia. Nurul melakukan penelitian selama tiga bulan untuk mengubah urine menjadi hidrogen dan memanfaatkan listrik tenaga surya untuk menggerakkan mobil remote kontrol. Prinsip kerjanya adalah listrik bertenaga surya yang disimpan dalam baterai lithium untuk menggerakkan motor.
Menggunakan alat elektrolizer, lanjutnya, energi listrik sebesar 75 persen untuk mesin penggerak roda. Sisanya digunakan dalam proses elektrolisasi yakni mengubah elektrolit berupa urin untuk menghasilkan gas hidrogen dan nitrogen sebagai limbah yang dilepas ke udara. Selanjutnya gas hidrogen dialirkan ke fuel cell. Terjadinya reaksi penggabungan antara hidrogen dan oksigen itu menghasilkan listrik. Listrik dialirkan ke proton exchange membrane fuel cell untuk mengikat proton. Sehingga hanya elektron saja yang disimpan dalam baterai dan menjadi listrik untuk penggerak motor.
Dipilihnya urine dalam proses elektrolisasi karena dinilai lebih efisien, hanya membutuhkan satu daya 0,37 volt. Bila menggunakan air, maka membutuhkan listrik 1,2 volt. Sehingga energi yang dibutuhkan juga lebih besar. Oleh sebab itu penggunaan air dinilai tidak efisien. ”Proses elektrolisasi untuk satu liter urin hanya membutuhkan waktu selama 1,5 menit,” ujarnya.
Nando Novia, yang juga Ketua Dewan Riset Muda SMAN 10 Malang, menambahkan akan mengembangkan inovasi ini untuk diterapkan pada mobil berbahan bakar listrik. Ia memperhitungkan untuk keperluan itu hanya dibutuhkan dana Rp50 juta. “Lebih murah dibandingkan dengan mobil hybrid seharga Rp215 juta,” tegasnya. Penerapan alat dengan cara solar cell dipasang di atap mobil. Sedangkan elektrolizer dan fuel cell dibenamkan di chasis mobil bagian depan sebagai pengganti mesin.
Setelah karya ini diakui internasional, SMA Negeri 10 segera mendaftarkan hak paten sekaligus berharap Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan penelitian ini agar memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Pada kategori fisika, diwakili siswa salah satu SMA di Aceh yang membuat alat pendeteksi kemurnian minyak goreng. Karya inovasi itu menyabet medali perak. Sedangkan siswa SMA Tangerang mewakili kategori kimia meneliti air bermagnet untuk meningkatkan pertumbuhan kecambah, meraih medali perunggu.
Source : GrupRobot.com
